Ini Penjelasan Medis Untuk Yang Sering Mengkretekkan Jari, Aman atau Berisiko?

Kretek Jari

Kebiasaan mengkretekkan jari sering dianggap hal sepele dan bahkan memberikan rasa lega sesaat bagi sebagian orang. Bunyi “krek” yang muncul kerap diasosiasikan dengan sendi yang terasa lebih ringan atau rileks. Namun, di balik sensasi tersebut, para ahli kesehatan mengingatkan adanya potensi risiko yang perlu diperhatikan, terutama jika kebiasaan ini dilakukan terlalu sering atau dengan teknik yang tidak tepat.

Mengapa Jari Bisa Berbunyi Saat Dikretekkan?

Mengutip Real Simple, bunyi kretek pada jari bukan berasal dari gesekan tulang, melainkan dari pelepasan gas nitrogen di dalam cairan sinovial yang melumasi sendi. Saat jari ditarik atau ditekan, tekanan dalam cairan sendi menurun dan membentuk gelembung gas. Ketika gelembung tersebut pecah, muncullah suara khas yang sering terdengar.

Secara medis, proses ini tidak secara langsung menyebabkan radang sendi atau arthritis. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kebiasaan ini tetap memiliki potensi dampak jika dilakukan secara berlebihan dan terus-menerus.

Risiko Jika Dilakukan dengan Cara yang Keliru

Masalah utama bukan terletak pada bunyinya, melainkan pada cara mengkretekkan jari. Menarik atau menekan jari dengan tenaga berlebihan dapat melukai ligamen di sekitar sendi. Dalam beberapa kasus, tindakan ini dapat memicu nyeri, pembengkakan, hingga dislokasi ringan apabila dilakukan secara paksa dan berulang.

Melansir Cleveland Clinic, jika seseorang tetap ingin mengkretekkan jari, sebaiknya dilakukan tanpa tenaga berlebih dan tidak memutar jari ke arah yang tidak alami. Teknik yang salah justru berisiko menimbulkan cedera jaringan lunak.

Hasil Penelitian Masih Beragam

Sejumlah penelitian mencoba menelusuri dampak kebiasaan ini terhadap kesehatan sendi. Mengutip Harvard Health Publishing, laporan medis menunjukkan bahwa komplikasi serius akibat mengkretekkan jari tergolong jarang dan biasanya berkaitan dengan kekuatan atau teknik yang digunakan.

Sebuah penelitian pada 1990 menemukan bahwa dari 74 orang yang rutin mengkretekkan jari, terdapat lebih banyak kasus pembengkakan tangan dibandingkan kelompok yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Namun, penelitian lain pada 2017 menyatakan tidak ada hubungan antara kebiasaan membunyikan sendi jari dengan penurunan kekuatan genggaman.

Kapan Harus Waspada?

Meski bukti ilmiah belum sepenuhnya konsisten, para dokter sepakat bahwa rasa sakit setelah mengkretekkan jari tidak boleh diabaikan. Nyeri, sensasi tertarik, atau rasa tidak stabil pada sendi bisa menjadi tanda cedera ringan yang berpotensi memburuk jika dibiarkan.

Selain itu, perubahan bentuk jari, seperti terlihat bengkok atau pembengkakan yang tidak kunjung reda, juga perlu diwaspadai. Kondisi tersebut dapat menandakan gangguan pada struktur sendi atau jaringan lunak yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Pada akhirnya, mengkretekkan jari sesekali umumnya tidak berbahaya. Namun, membatasi frekuensi dan memperhatikan teknik yang benar menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan sendi dalam jangka panjang.

Share

Scroll to Top