Puluhan nelayan dilaporkan mengalami cedera serius akibat gigitan ikan wolffish. Insiden tersebut disebut kerap terjadi karena banyak orang mengira ikan itu sudah tidak berbahaya setelah berhasil ditangkap atau berhenti bergerak.
Faktanya, bahaya wolffish tidak hanya berasal saat ikan masih hidup. Sistem saraf ikan ini masih dapat memicu gerakan refleks meski telah mati atau mengalami cedera parah.
Akibatnya, otot rahang wolffish masih mampu bereaksi ketika tersentuh. Jika tangan berada terlalu dekat, rahangnya dapat menutup dengan cepat dan menghasilkan gigitan yang sangat kuat.
Wolffish dikenal memiliki rahang yang kokoh serta gigi tajam yang secara alami digunakan untuk menghancurkan cangkang hewan laut. Karena itu, gigitan refleks yang terjadi setelah ikan ditangkap tetap berpotensi menyebabkan luka serius, bahkan hingga mengakibatkan kehilangan jari.
Banyak kecelakaan dilaporkan terjadi karena ikan dianggap sudah tidak berbahaya saat tubuhnya berhenti bergerak. Padahal, respons refleks pada sistem saraf masih dapat memicu gerakan mendadak dalam waktu tertentu setelah ikan tidak lagi aktif.
Oleh sebab itu, nelayan berpengalaman umumnya menangani wolffish dengan sangat hati-hati. Mereka lebih memilih menggunakan alat bantu untuk memindahkan atau memegang ikan daripada menggunakan tangan secara langsung.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa beberapa jenis hewan tetap dapat menimbulkan risiko meski terlihat tidak lagi aktif. Penanganan yang tepat dan penggunaan alat pelindung menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi kecelakaan saat berinteraksi dengan satwa liar.
