Kepala Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Sunarso, melakukan aksi protes tidak biasa dengan mandi di kubangan jalan rusak yang tergenang air, Selasa pagi (20/1/2026). Aksi tersebut dilakukan langsung di tengah ruas jalan Mlale–Ngepringan sambil mengenakan seragam dinas kepala desa. Rekaman peristiwa ini kemudian beredar luas di media sosial dan menarik perhatian publik.
Sunarso menjelaskan bahwa aksinya dilakukan secara spontan sebagai bentuk keputusasaan sekaligus protes atas kondisi infrastruktur desa yang tak kunjung mendapat perhatian. Menurutnya, jalan penghubung Mlale–Ngepringan telah mengalami kerusakan parah selama puluhan tahun. Kerusakan tersebut semakin memburuk sejak 2019 dan hingga kini belum mendapat penanganan permanen dari pemerintah.
Selama ini, perbaikan jalan hanya dilakukan secara swadaya oleh warga dengan cara menimbun lubang menggunakan tanah uruk. Upaya tersebut dinilai tidak efektif karena kondisi jalan kembali rusak saat musim hujan, bahkan berubah menjadi kubangan lumpur yang membahayakan pengguna jalan.
Sunarso juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap rencana pembangunan jalan yang sempat dijanjikan pada 2025. Proyek dengan nilai anggaran sekitar Rp1 miliar tersebut batal direalisasikan akibat kebijakan refocusing anggaran. Harapan untuk perbaikan pun kembali pupus setelah proyek tersebut tidak tercantum dalam APBD Penetapan 2026.
“Saya sudah tidak kuat dengan cemooh warga tentang jalan rusak itu. Banyak umpatan yang diarahkan ke saya karena warga sering jatuh saat melintas,” ujar Sunarso. Ia mengaku hampir setiap hari menerima keluhan, bahkan sindiran keras dari warga yang menjadi korban jalan rusak. Tak sedikit yang menilai dirinya seolah menutup mata terhadap kondisi tersebut, meski berbagai upaya telah ia lakukan untuk mengusulkan perbaikan.
Aksi mandi di kubangan lumpur itu, menurut Sunarso, merupakan simbol jeritan warga desa yang merasa diabaikan. Ia berharap aksi tersebut dapat membuka mata pihak-pihak terkait agar segera memberikan perhatian serius terhadap infrastruktur desa, khususnya jalan yang menjadi akses utama aktivitas warga.
Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan. Jalan desa yang rusak tidak hanya menghambat mobilitas ekonomi, tetapi juga berisiko menimbulkan kecelakaan dan menurunkan kualitas hidup masyarakat. Warga berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret agar permasalahan yang telah berlangsung lama ini tidak terus berulang.
