Penelitian terbaru mengungkap fakta menarik mengenai kemampuan sensorik ulat. Hewan kecil ini diketahui mampu merespons suara di sekitarnya, meski tidak memiliki telinga seperti manusia atau hewan vertebrata lainnya. Kemampuan tersebut diduga berasal dari bulu-bulu halus yang terdapat di tubuh ulat.
Temuan ini berawal dari pengamatan Carol Miles, seorang ahli biologi dari Binghamton University, Amerika Serikat. Ia menyadari bahwa ulat menunjukkan reaksi seperti terkejut setiap kali terdengar suara keras di sekitarnya. Pengamatan tersebut memunculkan pertanyaan apakah ulat benar-benar dapat mendeteksi suara dari lingkungan.
Untuk menjawab hal tersebut, Miles bersama tim peneliti melakukan serangkaian eksperimen menggunakan ulat ngengat tembakau. Penelitian dilakukan di ruang anechoic milik Universitas Binghamton, salah satu ruangan paling sunyi di dunia yang memungkinkan pengendalian suara secara presisi.
Di dalam ruangan tersebut, peneliti menguji respons ulat terhadap suara yang merambat melalui udara serta getaran yang disalurkan melalui permukaan tempat ulat berpijak, seperti batang tanaman. Pengujian dilakukan menggunakan suara dengan frekuensi rendah dan tinggi untuk memastikan sumber rangsangan yang memicu reaksi ulat.
Hasil penelitian yang dikutip dari Popular Science pada Kamis (5/2/2026) menunjukkan bahwa ulat mampu merasakan kedua jenis rangsangan tersebut. Namun, respons terhadap suara yang merambat di udara terbukti jauh lebih kuat, bahkan 10 hingga 100 kali lebih besar dibandingkan getaran yang diterima melalui permukaan.
Langkah selanjutnya dilakukan untuk mengetahui bagian tubuh yang berperan dalam mendeteksi suara. Tim peneliti kemudian menghilangkan sebagian bulu halus di tubuh ulat. Setelah perlakuan tersebut, sensitivitas ulat terhadap suara menurun secara signifikan.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa bulu-bulu kecil tersebut berfungsi sebagai alat pendeteksi suara. Bulu halus tersebut mampu menangkap pergerakan udara yang dihasilkan oleh gelombang suara, sehingga ulat dapat bereaksi terhadap rangsangan dari lingkungannya.
Para peneliti menduga kemampuan ini berkembang sebagai mekanisme pertahanan alami. Dengan mendeteksi suara kepakan sayap predator, seperti tawon, ulat dapat merespons lebih cepat untuk melindungi diri dari ancaman.
Penelitian ini tidak hanya penting bagi pemahaman tentang biologi hewan, tetapi juga memiliki potensi aplikasi dalam pengembangan teknologi. Mekanisme pendengaran ulat dinilai dapat menjadi inspirasi bagi pembuatan mikrofon generasi baru yang lebih sensitif dan efisien.
Hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam pertemuan gabungan Acoustical Society of America dan Acoustical Society of Japan pada Desember 2025. Menurut Ronald Miles, salah satu peneliti sekaligus insinyur mesin dari Universitas Binghamton, mempelajari cara hewan mendeteksi suara merupakan langkah penting dalam menciptakan teknologi sensor akustik yang lebih baik di masa depan.
