Kisah Perang Mu’tah: Rasulullah Menyaksikan Gugurnya Tiga Panglima dan Lahirnya “Pedang Allah”

Mu’tah

Perang Mu’tah merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi antara pasukan Muslim dan kekuatan Romawi. Dalam sejumlah riwayat hadis, peristiwa ini juga menggambarkan bagaimana Rasulullah Muhammad ﷺ menerima kabar gugurnya para panglima pasukan secara berurutan, bahkan ketika beliau berada di Madinah.

Jarak antara Madinah dan wilayah Mu’tah di kawasan Syam (kini wilayah Yordania) mencapai lebih dari 1.000 kilometer. Namun dalam riwayat yang tercatat dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ pada saat itu berada di Masjid Nabawi dan menyampaikan kepada para sahabat mengenai jalannya pertempuran yang sedang berlangsung.

Latar Belakang Perang Mu’tah

Perang Mu’tah terjadi ketika pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 3.000 orang berhadapan dengan pasukan Romawi dan sekutunya yang jumlahnya jauh lebih besar. Dalam tradisi peperangan saat itu, panji atau bendera komando memiliki peran penting sebagai simbol kepemimpinan dan penentu moral pasukan.

Selama bendera tersebut tetap berdiri, pasukan dianggap masih memiliki kekuatan untuk bertahan. Sebaliknya, jika bendera jatuh, hal itu dapat memengaruhi semangat para prajurit di medan perang.

Gugurnya Zaid bin Haritsah

Dalam riwayat hadis yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada para sahabat bahwa komando pasukan saat itu pertama kali dipegang oleh Zaid bin Haritsah.

Zaid bin Haritsah dikenal sebagai salah satu sahabat dekat Nabi dan pernah menjadi anak angkat beliau. Dalam pertempuran Mu’tah, ia memegang panji komando pasukan Muslim dan memimpin pasukan menghadapi musuh.

Namun dalam pertempuran tersebut, Zaid bin Haritsah akhirnya gugur di medan perang.

Kepemimpinan Beralih kepada Ja’far bin Abi Thalib

Setelah gugurnya Zaid bin Haritsah, panji komando kemudian dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah ﷺ.

Dalam berbagai riwayat sejarah Islam disebutkan bahwa Ja’far tetap berusaha mempertahankan panji pasukan meskipun mengalami luka berat dalam pertempuran. Ia akhirnya gugur setelah berjuang mempertahankan bendera pasukan Muslim.

Abdullah bin Rawahah Menjadi Panglima Berikutnya

Setelah Ja’far bin Abi Thalib gugur, komando pasukan kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi yang juga memiliki kemampuan dalam bidang sastra dan syair.

Dalam pertempuran tersebut, Abdullah bin Rawahah sempat menghadapi keraguan melihat situasi perang yang sangat berat. Namun ia akhirnya tetap maju ke medan pertempuran dan gugur sebagai syahid.

Kepemimpinan Beralih kepada Khalid bin Walid

Setelah gugurnya tiga panglima tersebut, komando pasukan kemudian diambil alih oleh Khalid bin Walid. Dalam riwayat hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai “salah satu pedang dari pedang-pedang Allah”.

Khalid bin Walid kemudian memimpin pasukan dengan strategi yang berbeda untuk menghadapi situasi yang sangat sulit. Melalui taktik perang yang cermat, pasukan Muslim akhirnya dapat menarik diri dari medan perang tanpa mengalami kehancuran total.

Rasulullah Menangis atas Gugurnya Para Sahabat

Dalam riwayat hadis Sahih Bukhari (No. 4262), disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gugurnya para panglima tersebut kepada para sahabat di Madinah. Ketika menyebut nama-nama sahabat yang gugur, beliau tampak sangat berduka.

Air mata Rasulullah ﷺ disebut mengalir ketika menceritakan gugurnya para sahabat yang memimpin pasukan di Mu’tah. Kesedihan tersebut menunjukkan kedekatan beliau dengan para sahabat yang berjuang di medan perang.

Peristiwa Bersejarah dalam Sejarah Islam

Perang Mu’tah menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Islam. Meski menghadapi pasukan yang jauh lebih besar, pasukan Muslim tetap berusaha mempertahankan perjuangan mereka di medan perang.

Kisah ini juga sering dijadikan pelajaran mengenai kepemimpinan, pengorbanan, dan keteguhan para sahabat dalam menghadapi situasi yang sangat sulit.

Riwayat mengenai peristiwa tersebut tercantum dalam sejumlah kitab hadis Sahih Bukhari nomor 4262.

Share

Scroll to Top