23 Tahun Mengabdi, Guru Honorer Ini Ungkap Nominal Gajinya

Gaji Guru Honorer Pak Ribut

Seorang guru honorer bernama Ribut kembali menjadi perbincangan warganet setelah membagikan kisah panjang pengabdiannya di dunia pendidikan melalui akun Instagram @pak_ributguru82. Dalam unggahan tersebut, Pak Ribut menceritakan perjalanan kariernya selama 23 tahun mengajar, lengkap dengan catatan gaji yang pernah ia terima sejak awal mengabdi sebagai guru honorer.

Melalui konten yang dibagikannya, Pak Ribut mengungkap bahwa pada periode 2003 hingga 2016, ia hanya menerima gaji di kisaran puluhan ribu rupiah per bulan. Kondisi tersebut berlangsung cukup lama, meski tanggung jawab sebagai pendidik tetap dijalankan secara penuh. Setelah lebih dari satu dekade mengajar, penghasilannya baru mengalami peningkatan signifikan pada 2019, ketika gaji yang diterima menyentuh angka sekitar Rp1 juta per bulan. Artinya, dibutuhkan waktu sekitar 16 tahun bagi Pak Ribut untuk mencapai penghasilan tersebut sebagai guru honorer.

Dalam keterangan unggahannya, Pak Ribut menuliskan alasan dirinya mampu bertahan hingga saat ini. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa keberkahan dari profesi guru telah membuka jalan rezeki lain di luar gaji utama. Ia juga memanjatkan doa agar selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam mengabdi kepada anak-anak bangsa, sembari berharap usaha dan aktivitas lain yang dijalaninya dapat terus berkembang.

Unggahan tersebut menuai beragam respons dari warganet, khususnya sesama guru honorer. Salah satu komentar datang dari seorang guru yang mengaku memiliki pengalaman serupa, dengan gaji honorer sekitar Rp250 ribu per bulan. Ia mengungkap bahwa meskipun memiliki usaha di luar bidang pendidikan yang mampu mencukupi kebutuhan keluarga, ia tetap memilih menjalani dua profesi sekaligus. Menurutnya, pesan almarhum ayahnya menjadi penguat bahwa meski rezeki datang dari berbagai jalan, sumber keberkahannya tetap berasal dari tempat ia mengajar.

Komentar lain menyoroti makna profesi guru yang dinilai tidak semata-mata diukur dari besarnya gaji, melainkan dari keikhlasan dalam menjalani pengabdian. Ada pula warganet yang menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi kesejahteraan guru di Indonesia, mempertanyakan keadilan sistem penggajian yang dinilai belum sebanding dengan peran strategis guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kisah Pak Ribut menjadi potret nyata realitas yang dihadapi banyak guru honorer di Indonesia. Meski dihadapkan pada keterbatasan penghasilan, semangat mengajar dan keyakinan akan nilai keberkahan profesi masih menjadi alasan kuat bagi sebagian pendidik untuk tetap bertahan dan mengabdi di dunia pendidikan.

Share

Scroll to Top