Taat atau Kritis? Dinamika Umat Islam dalam Menyikapi Pemerintah

Taat atau Kritis

Perbedaan Sikap, Bukan Perbedaan Iman

Perbedaan pandangan umat Islam dalam menyikapi pemerintah kerap memunculkan kesan seolah terjadi perpecahan yang tajam. Sebagian memilih sikap mendukung dan menjaga kedekatan dengan penguasa, sementara sebagian lain tampil kritis terhadap kebijakan dan praktik kekuasaan. Namun, perbedaan ini pada dasarnya bukan soal iman, melainkan perbedaan cara memahami konsep kekuasaan, ketaatan, kritik, dan amanah dalam Islam.

Al-Qur’an sendiri menggambarkan fenomena perbedaan tersebut. Dalam Surah Ar-Rum ayat 32 disebutkan bahwa setiap kelompok cenderung merasa bangga dengan pemahaman yang diyakininya. Artinya, perbedaan sikap merupakan bagian dari dinamika umat, selama masih berada dalam koridor ajaran Islam.

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًاۗ كُلُّ حِزْبٍ ۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Q.S Ar-Rum:32)

Kelompok yang Mengedepankan Ketaatan dan Stabilitas

Kelompok pertama cenderung memilih sikap merapat kepada pemerintah. Sikap ini umumnya dilandasi kekhawatiran akan munculnya kekacauan sosial, fitnah, dan perpecahan umat jika otoritas negara dilemahkan. Bagi kelompok ini, keberadaan pemerintahan meskipun memiliki kekurangan dinilai lebih baik daripada ketiadaan kekuasaan yang berpotensi melahirkan konflik.

Mereka menekankan pentingnya ketaatan kepada ulil amri, menjaga stabilitas, serta menghindari pertikaian internal. Sejarah Islam sering dijadikan rujukan, di mana runtuhnya suatu wilayah bukan semata karena serangan musuh, melainkan akibat konflik dari dalam umat sendiri.

Kelompok yang Menekankan Sikap Kritis dan Amanah Kekuasaan

Di sisi lain, terdapat kelompok yang memandang sikap kritis terhadap pemerintah sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. Pandangan ini berangkat dari kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral dan spiritual yang melekat padanya.

Bagi kelompok ini, kritik dipandang sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Mereka meyakini bahwa kekuasaan tanpa pengawasan berisiko melahirkan ketidakadilan, dan stabilitas tanpa keadilan hanya akan menunda kehancuran. Dalam pandangan ini, diam terhadap kezaliman dianggap sebagai bentuk pengabaian amanah.

Dua Ketakutan yang Berbeda

Perbedaan sikap tersebut pada dasarnya berangkat dari ketakutan yang sama, yakni kehancuran umat, namun dilihat dari arah yang berbeda. Satu pihak lebih takut pada kekacauan dan perpecahan, sementara pihak lain lebih khawatir pada menguatnya kezaliman dan penyalahgunaan kekuasaan.

Islam sendiri tidak mengajarkan ketaatan secara membabi buta, namun juga tidak membenarkan kritik yang serampangan. Ulama seperti Al-Mawardi menekankan pentingnya ketaatan yang disertai kesadaran, serta kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab.

Jalan Tengah dalam Islam

Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan keseimbangan antara keduanya. Beliau menghormati tatanan sosial yang berlaku, tetapi tidak pernah diam ketika menghadapi ketidakadilan. Islam mengajarkan penyampaian kebenaran dengan cara yang tidak merusak tatanan masyarakat.

Masalah kerap muncul ketika dalil agama digunakan sebagai alat pembenaran kelompok, bukan sebagai cahaya untuk mencari keadilan. Islam tidak melarang perbedaan ijtihad, namun memperingatkan bahaya merasa paling benar dan menyesatkan pihak lain.

Menjaga Nurani dan Hikmah

Ketaatan tanpa nurani berpotensi melahirkan tirani, sementara kritik tanpa hikmah dapat memicu anarki. Karena itu, Islam memanggil umatnya untuk menempuh jalan yang lebih berat. Bersikap adil, tenang, dan bertanggung jawab, tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah.

Di tengah perbedaan sikap terhadap pemerintah, umat Islam diharapkan tidak terjebak dalam polarisasi berlebihan, melainkan mengedepankan akal yang jernih, niat yang lurus, serta etika dalam menyampaikan sikap dan pendapat.

Share

Scroll to Top