Sebuah unggahan di media sosial Instagram dari akun @dimazbenington125 menjadi perhatian publik setelah mengisahkan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami seorang pengemudi taksi online saat menjalankan pekerjaannya di wilayah Jakarta. Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 31 Januari 2026.
Dalam keterangannya, pengemudi tersebut menyampaikan bahwa kejadian bermula sekitar pukul 22.00 waktu setempat, saat ia menerima pesanan penumpang dengan tujuan awal diantar ke rumah teman penumpang, kemudian dilanjutkan ke restoran Burger King Tebet. Pada awal perjalanan, pengemudi mengaku tidak menaruh kecurigaan karena penumpang berbicara dan bersikap seperti penumpang pada umumnya.
Karena belum terlalu mengenal wilayah Jakarta, pengemudi meminta bantuan penumpang untuk menunjukkan arah perjalanan. Namun, selama perjalanan berlangsung, pengemudi mulai merasa janggal karena rute yang dilalui berulang dan perjalanan terasa jauh lebih lama dari perkiraan. Hingga pukul 23.30, kendaraan belum juga tiba di tujuan pertama.
Sekitar pukul 00.30, kendaraan akhirnya sampai di sebuah restoran. Penumpang masuk ke dalam lokasi tersebut, sementara pengemudi menunggu di dalam mobil selama kurang lebih 20 menit. Setelah keluar dari restoran, penumpang kembali meminta untuk diantar ke Burger King di kawasan Tebet, dan keduanya tiba di lokasi sekitar pukul 01.00 dini hari.
Setibanya di restoran, penumpang sempat mengajak pengemudi masuk dan memesan makanan dengan janji akan mentraktir. Pengemudi pun mengikuti ajakan tersebut hingga tahap pemesanan selesai. Namun, saat proses pembayaran, penumpang mengaku tidak dapat melakukan transaksi dengan alasan kartu ATM miliknya bermasalah dan tertinggal di rumah.
Merasa lelah dan ingin segera beristirahat, pengemudi akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan meminta penumpang mencari pengemudi lain. Pada saat itulah muncul persoalan baru, karena penumpang menolak membayar biaya perjalanan taksi dengan alasan tidak membawa dompet.
Pengemudi juga mengungkapkan bahwa penumpang tersebut tidak membawa telepon genggam, dompet, maupun kartu identitas apa pun, sehingga menyulitkan proses penyelesaian masalah secara langsung. Situasi tersebut membuat pengemudi merasa dirugikan dan tidak mendapatkan pembayaran atas jasa yang telah diberikan selama berjam-jam perjalanan.
Melalui unggahan tersebut, pengemudi mengimbau rekan-rekan sesama pengemudi driver online dan transportasi umum untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat menerima penumpang pada malam hingga dini hari. Ia menekankan pentingnya berhati-hati terhadap penumpang yang tidak memiliki identitas jelas atau menunjukkan perilaku mencurigakan selama perjalanan.
Hingga berita ini ditulis, belum diketahui apakah kejadian tersebut telah dilaporkan secara resmi kepada pihak perusahaan aplikasi transportasi online maupun aparat berwenang. Peristiwa ini menjadi pengingat akan tantangan dan risiko yang masih dihadapi para pengemudi transportasi daring dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, khususnya terkait keamanan dan kepastian pembayaran jasa.
