Kenapa Nyamuk Lebih Memilih Darah Manusia daripada Hewan?

Nyamuk

Sebuah penelitian terbaru mengungkap perubahan perilaku nyamuk di wilayah hutan yang mengalami tekanan lingkungan akibat aktivitas manusia. Studi tersebut menunjukkan bahwa ketika manusia memasuki kawasan liar yang terdegradasi, nyamuk cenderung lebih memilih darah manusia dibandingkan sumber makanan lainnya.

Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan di Brasil dengan menganalisis sampel darah dari 145 nyamuk betina yang dikumpulkan di kawasan cagar alam Hutan Atlantik. Wilayah tersebut diketahui mengalami deforestasi parah akibat alih fungsi lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sejumlah spesies nyamuk memiliki preferensi yang jelas untuk menghisap darah manusia.

“Beberapa spesies yang kami teliti menunjukkan kecenderungan kuat memilih darah manusia sebagai sumber makanannya,” ujar Jeronimo Alencar, ahli biologi dari Institut Oswaldo Cruz, Brasil, sekaligus salah satu penulis penelitian.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Ecology and Evolution pada Kamis, 15 Januari 2026. Temuan tersebut memperkuat bukti sebelumnya bahwa penggundulan hutan meningkatkan intensitas interaksi antara manusia dan nyamuk, yang dikenal sebagai vektor berbagai penyakit menular.

Nyamuk berperan dalam penyebaran sejumlah penyakit berbahaya seperti demam berdarah, malaria, Zika, dan ensefalitis. Peningkatan kontak dengan manusia di wilayah yang mengalami kerusakan lingkungan berpotensi memperbesar risiko penularan penyakit-penyakit tersebut.

Hutan Atlantik sendiri merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. Wilayah ini menjadi habitat bagi sekitar 270 spesies mamalia, 850 jenis burung, serta lebih dari 570 spesies reptil dan amfibi. Pada masa lalu, Hutan Atlantik membentang hingga sekitar 1,3 juta kilometer persegi, namun kini luasnya menyusut menjadi kurang dari sepertiga akibat ekspansi pertanian dan pembangunan permukiman.

Menurut para peneliti, deforestasi tidak hanya mengurangi keanekaragaman hayati, tetapi juga mengubah dinamika ekosistem secara signifikan. Setiap tahun, sekitar 10 juta hektar hutan di dunia hilang akibat aktivitas manusia.

“Deforestasi mengurangi keanekaragaman hayati lokal, menyebabkan nyamuk, termasuk pembawa agen penyakit, menyebar dan mencari sumber makanan alternatif,” tulis para penulis dalam laporan penelitian tersebut.

Temuan ini diharapkan dapat membantu para peneliti dan pembuat kebijakan memahami hubungan kompleks antara kerusakan lingkungan dan meningkatnya risiko penyakit, serta menegaskan peran manusia dalam menciptakan kondisi yang memicu masalah kesehatan global.

Share

Scroll to Top